
Pakej ditawarkan khas kepada orang-orang dikawasan Kedah sahaja.Pada sesiapa di negeri lain itu,saya minta maaf ok.
Pakej ditawarkan khas kepada orang-orang dikawasan Kedah sahaja.Pada sesiapa di negeri lain itu,saya minta maaf ok.

Banyak alasan yang membuat aku menyukai Lightroom, diantaranya ialah:
1. Lebih Menjimatkan Waktu & Tenaga
Setiap kali kita keluar berjalan-jalan mahupun ada sebarang acara, kebiasaannya kita akan mengambil banyak gambar, adakalanya mencecah ratusan gambar,oleh itu,kita perlu menggunakan sesuatu software yang cepat & jimat masa kita. Dengan menggunakan Lightroom, kita tidak perlu susah-susah membuka banyak foto dan mengedit satu-satu seperti di Photoshop. Kita boleh memasukkan gambar sekaligus, memilih gambar dan mengeditnya.
2. Banyak Fungsinya
Adobe lightroom tidak hanya untuk mengubah terang gelap, kontras, warna, penajaman saja, tapi ada fungsi yang sangat membantu seperti spot removal untuk membersihkan bintik-bintik yang mengganggu seperti jerawat pada wajah, dan yang paling bagus adalah adjustment brush untuk mengedit hanya sebahagian kawasan gambar saja.
3. Tethered shooting
Dengan Adobe Lightroom, kita boleh menghubungkan kamera dan komputer dengan kabel USB. Kemudian gambar yang diambil kamera akan masuk ke Adobe Lightroom secara auto. Hal ini merupakan suatu hal yang sangat membantu bagi fotografer yang bekerja di studio, kerana dengan melihat gambar secara terus melalui monitor, depa boleh melihat dengan detail hasil gambarnya.
4. Non-destruktif editing
Lightroom mencatat semua langkah-langkah yang dilakukan kita dalam pengeditan gambar, jadi kalau kita ternyata kurang puas akan hasil akhir gambar, kita boleh kembali ke langkah-langkah sebelumnya dengan mudah.
5. File management
Selain untuk editing, Lightroom juga boleh membantu dalam hal file management. Kita boleh mengatur dan letakkan gambar-gambar kita dalam kategori atau menambahkan label, keywords (kata kunci) pada sesuatu gambar. Jadi ketika kita ingin mencari gambar tertentu, Lightroom dengan cepat boleh membantu kita menemukan gambar-gambar yang kita inginkan.
Apa yang tidak boleh dilakukan di Lightroom?
Untuk manipulasi gambar seperti mengubah latar belakang, membuat montase foto, mengubah foto dengan efek-efek yang tidak nyata kita masih harus tetap menggunakan Photoshop.
Ada beberapa teknik penggunaan flash iaitu bounce flash, diffuse flash, direct flash, off camera flash.
Teknik bounce flash (pantulan)
Tujuan menggunakan teknik ini adalah untuk memantulkan cahaya dari flash ke permukaan yang lebih besar seperti langit-langit atau dinding. Dengan memantulkan cahaya dari flash, maka cahaya ruangan yang ada menjadi lebih rata dan halus. Teknik ini boleh digunakan di langit-langit yang tidak terlalu tinggi.
Teknik Diffuse Light (menyebarkan cahaya)
Tujuannya sama dengan bounce iaitu membuat cahaya lebih rata dan halus. Teknik ini boleh dicapai dengan menggunakan aksesori seperti Gari Fong lightsphere atau stofen omnibounce. Dengan salah satu aksesori ini, kita boleh menyebarkan cahaya ke seluruh arah. Teknik ini baik digunakan di dalam ruangan yang relatif kecil.
Teknik Direct Flash (langsung)
Cara menggunakan teknik ini adalah dengan mengarahkan flash langsung ke subjek. Biasanya hasil dari direct flash cukup kasar, maka dari itu sering dihindari. Tapi kalau kita tidak boleh melakukan teknik bounce atau diffuse kerana keterbatasan lingkungan, maka teknik ini boleh dilakukan.
Teknik Off Camera Flash
Tujuan teknik ini adalah untuk menghasilkan cahaya yang terarah pada suatu subjek. Misalnya dalam potret manusia, menggunakan teknik ini bagi mendapatkan menghasilkan gambar objek seperti tiga dimensi. Untuk mengunakan teknik ini,memerlukan penghubungan diantara kamera dan flash. Alat penghubungan diantara lain seperti kabel sinkronisasi (cable sync flash), atau wireless trigger (alat pemantik nirkabel). Dengan adanya alat penghubungan, kamera boleh mengatur satu flash ataupun beberapa flasht yang disusun dalam beberapa kumpulan.
Kita sering terlupa bahaya cahaya adalah salah satu sumber untuk mencantikkan lagi gambar kita.Cahaya mempunyai 2 jenis iaitu cahaya keras dan cahaya yang lembut.
Gambar potret dengan cahaya yang keras
Cahaya yang keras, sumber cahayanya relatif kecil, iaitu cahaya matahari pada waktu tengah hari. Arah cahaya itu datang dari arah sisi kanan model.
Mungkin ada yang masih tak paham, sinar matahari disebut sebagai sumber cahaya yang kecil.Ini kerana letak yang sangat jauh dari bumi sehingga menjadi relatif kecil dipandang dari bumi, kecuali bila awan menutupi cahaya matahari.
Kalau kita perhatikan, cahaya yang keras menghasilkan gambar yang sangat kontras. Bayangan yang terbentuk juga sangat jelas. Bayangan seperti ini menutupi sebahagian sisi wajah sehingga wajah model terlihat menjadi kurus. Tekstur kulit seperti jerawat akan menonjol.
Sebaliknya cahaya yang lembut akan menghasilkan gambar yang tidak kontras cahaya yang keras, tekstur muka tidak terlalu menonjol, dan bayangannya tidak begitu kelihatan .
Gambar potret dengan cahaya yang lembut
Untuk mendapatkan cahaya yang lembut, kita perlu sumber cahaya yang relatif besar, dalam gambar ini, sebuah reflektor berbentuk bulat digunakan untuk menghalang sinar matahari yang datang terlalu banyak dari sebelah kanan model.
Sekarang,kita perlu pikir,yang mana lagi bagus? cahaya yang keras atau lembut? semua bergantung kepada selera dan citarasa seseorang itu. Kalau bagi aku, kedua-duanya sama bagus mengikut keadaan atau model yang kita gunakan. Cahaya yang keras kelihatan lebih dramatis, sedangkan cahaya yang lembut membuat wajah lebih halus.
Filem memiliki banyak persamaan dengan fotografi. Sama seperti fotografi, filem juga menggunakan kamera(video). Dalam zaman sekarang, ramai yang menggunakan yang menggunakan DSLR untuk merakam atau membuat video.
Sama seperti fotografi, untuk menghasilkan sesebuag filem yang berkualiti tinggi , ia memerlukan pemikiran yang terbuka dan matang terhadap lighting (pencahayaan), komposisi, warna dan sebagainya.
Oleh sebab itu, dengan menonton filem yang baik kualitinya, kita boleh mempelajari tentang fotografi melalui menonoton filem tersebut. Yang paling penting,semasa kita menonton filem tersebut,kita perlulah memperhatikan elemen-elemen visual di dalam filem. Contohnya komposisinya, dimana terletaknya subjek utama? apakah di tengah-tengah atau ke tepi (mengikuti aturan tiga segi). Dari mana arah datangnya cahaya? apakah dari atas, bawah, atau di tepi? Keras atau lembut cahayanya? Mengapa perlu memilih cahaya yang demikian?
Kita perlu perhatikan juga penggunaan warna di dalam menonton film. Warna biasanya dikaitkan dengan mood/perasaan. Warna kuning dan jingga menggambarkan perasaan yang hangat, gembira. Warna biru menggambarkan suasana yang dingin atau tenang. Warna gelap seperti hitam menggambarkan suasana yang misterius dan horror.
Dari menonton film, kita-kita yang belajar fotografi bisa memperoleh manfaat untuk meningkatkan ilmu fotografi kita. Maka dari itu kalau bisa jangan sekedar nonton, tapi juga perhatikan komposisi elemen-elemen visual yang digunakan sang sutradara.
Beberapa film dari jaman dulu yang visualnya bagus untuk dipelajari:
FILEM CUN (2011)
Cerita yang mengisahkan tentang percintaan dua daerah iaitu hero kampung dan artis terkenal.Dalam filem ini kebanyakkan menggunakan warna-warna yang lembut dan dingin kerana ingin menaikkan mood romantik.Seperti gambar diatas,kita dapat melihat warna kebiruan semasa Remy Ishak(Atan) ingin melafazkan cintanya terhadap Maya Karim(Luna).
The Last Emperor (1987)
Film tentang kehidupan Puyi, kaisar terakhir Dinasti Qing Cina dari kecil sampai tua. Di dalam film ini, digunakan banyak sekali warna-warna yang merefleksikan atmosfer pada saat itu. Misalnya sutradara memilih warna-warna cerah seperti kuning dan jingga pada saat Puyi kecil melukiskan masa-masa bahagianya. Dan mengunakan warna yang agak kelam (saturasi warna yang rendah) pada saat Puyi ditahan.
In the mood for Love (2000) pemeran utama Maggie Cheung & Tony Leung
Film Hongkong ini tentang kisah percintaan antara dua insan yang kesepian karena ditinggal oleh pasangan mereka. Film ini menarik karena kameramennya adalah juga fotografer. Maka dari itu komposisi foto ini sangat menarik secara visual dan lebih terkesan fotografi daripada komposisi yang biasanya kita lihat di filem. Pemakaian warna-warna juga sangat baik untuk menggambarkan mood.
Untuk menjadikan kita lebih mahir dalam bidang ini,kita perlulah ingat perkataan 3M ini iaitu (melihat,merasa dan memikir).Seperti juga semasa kita kecil dahulu,kita belajar sesuai benda itu dengan meniru gaya orang lain atau gaya orang dewasa.Contohnya,ketika kita baru hendak beljar bercakap,kita akan mengajuk-ajuk cakap ibu & ayah kita.Lama-lama,kita merasa meniru itu merupakan suatu cara yang efektif atau cara pantas untuk belajar sesuatu.
Di dalam fotografi, banyak yang menganggap kegiatan meniru ini boleh membuat gambar kita menjadi lagi baik atau bagus.
Pertama, kita perlulah berpikir bahawa dengan meniru setting yang diberikan di dalam mana-mana majalah atau tutorial yang diberikan akan mendapatkan hasil yang sama dengan gambar yang ditunjukkan . Kedua, kita perlu fikirkan bahawa dengan menggunakan kamera dan lensa yang sama akan menghasilkan gambar yang sama kualitinya.
Apa yang diberitahukan setting kamera (ISO, bukaan, shutter speed) adalah tentang ukuran pencahayaan yang ada pada keadaan itu. Keadaan cahaya terutama di luar ruangan selalunya akan berubah, jadi bila kita meniru setting tersebut, akan terjadi masalah dengan gelap dan terangnya (eksposur) hasil gambar itu. Selain itu, kita tidak mengetahui posisi fotografer dengan subjek utama dan latar belakang, kita juga tidak mengetahui alat-alat lain yang digunakan untuk menghasilkan gambar tersebut seperti tripod, filter. Kita juga tak tahu kalau gambar itu sudah di edit menggunakan software tertentu.
Informasi jenis kamera, lensa yang dipakai juga akan menyesatkan. Misalnya, kita akan beranggapan bahawa harus menggunakan kamera yang canggih dan lensa yang mahal-mahal untuk menghasilkan gambar tersebut. Setelah membeli alat-alat sesuai, bila tidak menghasilkan gambar yang kita inginkan itu,maka kita akan merasa kecewa dan akan putus asa.Dibawa ada satu contoh gambar yang menggunakan kamera yang murah.
Daripada sibuk menerjemahkan dan belajar dari spesifikasi gambar yang ada, lebih baik kita kena belajar melihat (to see) Melihat itu tidak sama dengan memandang atau menengok (to look). Saat kita melihat, kita memberikan waktu kepada mata dan pikiran kita untuk memperhatikan detail-detail yang tidak pernah kita lihat sebelumnya dengan hanya sekilas pandang.
Lalu kita harus belajar merasakan (to feel). Dengan merasakan suasana pemandangan yang kita lihat, baru kita boleh berkomunikasi dengan efektif suasana (mood) kepada orang yang melihat gambar kita itu.
Setelah kita melihat dan merasakan, saatnya kita berpikir, (to think) berpikir tentanf kamera, lensa, setting kamera, penghasilan gambar yang boleh membantu kita untuk meneruskan dan berkomunikasi dengan suasana yang kita lihat.
